Selasa, 29 Maret 2016

Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad

Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

GEROBAK sapi itu bergerak perlahan. Yang menjadi kusirnya seorang lelaki tua berjanggut dan berambut putih duduk tenang-tenang saja karena dia memang tidak terburu-buru. Di sampingnya duduk seorang dara. Rambutnya yang hitam pendek dikuncir ke atas hingga wajahnya yang jelita tampak lucu. Gadis ini adalah anak tunggal si orang tua berjanggut putih. Dara ini memang ber-sifat riang ceria. Sepanjang perjalanan dia selalu menyanyi kecil sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya yang memegang sebuah tongkat bambu. Melihat pakaian ringkas warna putih yang dikenakan ayah dan anak ini jelas keduanya adalah orang-orang persilatan.

"Mintari anakku," berkata lelaki tua di atas gerobak pada anak gadisnya. "Kalau sampai di tempat pertemuan para tokoh silat di Selatan nanti, jangan sekali-kali kau berlaku sembrono. Kau duduk saja di sampingku. Jangan bicara kalau tidak diminta. Ingat, di situ juga ada Datuk Alam Rajo Di Langit, tokoh silat dari tanah Minang yang akan membawamu ke Pulau Andalas. Semua ilmu ke-pandaianku sudah kuwariskan padamu. Selanjutnya Datuk Alam yang akan membawamu ke tanah Minang dan menggemblengmu di sana. Ingat juga, Datuk itu adalah orang tua yang sangat saleh. Karena itu selama di sana jangan sekali-kali kau meninggalkan sembahyang."

Gadis berna
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Senin, 28 Maret 2016

3 x 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"

Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"

Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.

Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga

Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.

Story76

Why Do We Break Up?

Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang menggelegar di telinga. Sepertinya akan turun hujan. Rina masih saja duduk terdiam di ruang keluarga. Kedua tangannya menggapai lutut. Ia terlihat begitu murung. Tak berdaya sama sekali.

“Kamu di mana? Aku kangen banget sama kamu! Kamu hilang bagai ditelan bumi. Nggak ada kabar sama sekali!”
Kejadian itu pun teringat kembali di benak Rina. Rina memanggil Lee, saaat ia sedang lari sore bersama Dina, temannya. Tapi panggilannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Lee. Rina jadi sedih sekali. Dia dicuekin begitu saja. Sebagai perempuan, ia merasa tidak diperhatikan oleh pujaan hatinya sendiri. Tapi Rina tak mengetahui bahwa di saat itu Lee sedang memakai headset di telinganya. Mendengar lagu dengan volume tertinggi. Lee mencoba tuk menjelaskan, tapi Rina bersikeras untuk mendengarkan. Dengan berat hati Lee meninggalkan Rina.

Lee berusaha untuk tidak menghubungi Rina untuk sementara waktu. Mungkin dengan begitu, Rina bisa menenangkan pikirannya yang penuh dengan emosi. Dan sampai sekarang Rina masih belum bisa mengontrol emosinya.
Rina beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar.
“Makan dulu nak!” teriak ibunya dari sebelah kamar.
“Aku udah kenyang ma.” Balas Rina lalu menutup rapat pintu kamarnya. Sebenarnya Rina sama sekali belum makan. Selera makannnya menjadi hilang karena terlalu memikirkan Lee, orang yang sangat ia cintai.
Alunan melodi mulai merambat ke telinga Rina. Melodi yang begitu pelan tapi sangat menghanyutkan. Liriknya sangat menyentuh hati Rina. Persis seperti yang ia rasakan sekarang. Air matanya pun mengalir keluar membasahi wajah cantiknya. Seakan langit mengetahui apa yang ia rasakan sehingga ia juga meneteskan air mata.

“Heyy..!!” suara itu tiba-tiba mengejutkan Rina.
“Kamu ngapain di sini?” sambungnya lagi. Ia kemudian duduk di samping Rina.
“Indra!!” sebut Rina dengan terkejut.
Pemuda itu hanya tersenyum manis kepadanya.
“Kapan kamu datang?” tanya Rina.
“Tadi pagi. Kebetulan libur jadi ku sempatkan diri untuk melihatmu. Ku pikir kamu ada di rumah, jadi aku langsung menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada. Jadi aku lihat di sini aja. Ternyata dugaaanku tak pernah lari dari kenyataan yang ada.”
Rina hanya terseyum kecil. Itu senyuman pertama yang terpampang di wajahnya semenjak pertengkaran dengan Lee. Indra, adalah teman dekat Rina sewaktu SMP. Sayang, ia harus berpisah dengan Rina karena tugas ayahnya di luar kota. Tapi itu tak membuat tali persahabatan mereka putus.
“Kamu lagi sedih ya?’
“Nggak kok!” kata Rina, mencoba mengelak dari kenyatan yang sementara ini ia hadapi.
“Udah, kamu nggak bisa bohong sama aku. Itu terlihat jelas sekali di raut wajahmu. Setiap kali kamu sedih, pasti kamu datang ke pantai kan? Ya seperti sekarang ini? Aku udah kenal lama sama kamu. Jadi meskipun kamu berusaha tersenyum kepadaku, ngerasa bahwa kamu baik-baik saja, itu ta kan berguna tahu? Dibalik senyum manismu tersirat sebuah kesedihan yang berusaha kau sembunyikan. Kau berusaha tegar di mata orang, tapi sebenarnya tidak! Kau berusaha mengatakan bahwa kau tak punya masalah. Tapi tidak di mataku. Jadi cerita saja. Aku ini temanmu kan? Apa salahnya jika kamu berbagi, mungkin dengan begitu kita bisa mencari jalan keluar bersama”
Rina hanya terdiam. Suasana menjadi hening untuk sementara. Kata-kata Indra memang benar tak pernah meleset dalam menebak apa yang sedang Rina rasakan.
“Aku lagi marahan sama Lee.” kata Rina mulai perlahan. Rina mulai menjelaskan masalah yang kini ia hadapi. Wajahnya mulai tampak sedih saat harus mengutarakannya.
“Pacar kamu?”
Rina hanya menganggukan kepalanya saja.
“Jujur, aku belum tahu Lee orangnya seperti apa dan bagaimana sikapnya. Aku juga belum bertemu dengan dia secara langsung. Akan tetapi sebagai cowok, sudah tentu aku tahu apa yang kini ia rasakan. Dan aku jamin ini tak kan berlangsung lama kok. Jika dia mencintaimu, pasti ia akan datang menghampirimu dan mengucapkan maaf. Oh ya, aku harap kamu jangan terlalu lama bersedih ya, Banyak hal yang masih bisa kamu lakukan. Percayalah, hari esok pasti akan lebih baik dari hari ini. Kita tinggal menjalaninya saja bukan? Kalau dalam pacaran, harus ada yang mau mengalah. Jangan kita mempertahankan ego kita masing-masing. Malah itu akan membuat jembatan cinta yang telah kita bangun bersama dengan orang yang kita cintai runtuh. Aku yakin kamu tak mau hal itu terjadi kan?” jelas Indra panjang lebar. Rina menganggukan kepalanya sekali lagi.
“Kalau aku lagi kesal, aku sering kemari sambil melakukan ini.” kata indra sambil berdiri mengambil sebuah batu yang permukaanya datar dan melemparkannya ke atas permukaan air. Batu tersebut memantul beberapa kali di atas permukaan air, sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut.
“Kamu harus coba. Dijamin bisa sedikit hilangin rasa marah dan sedih kamu.” sambungya lagi.

Rina pun mencoba saran yang diberikan. Ia sedikit merasa lega saat melakukannya. Seeakan perasaanya ikut pergi bersama batu yang dilemparnya, kemudian tenggelam dan tak terlihat lagi. Indra datang di waktu yang tepat. Memang semuia telah direncanakanNya. Rencananya selalu indah tepat pada waktunya. Rina menjadi terhibur dengan kedatangan teman lamanya itu.
“Kita pulang yuk! Bentar lagi udah malam.” ajak Indra.
“Aku tak mau melewatkan bagian favoritku!” balas Rina sambil duduk di atas pasir. Indra duduk di sampingnya. Rina merasakan angin yang berhembus sambil menikmati pemandangan sore itu. Tak sadar Rina lalu menyandarkan tubuhnya di pundak indra. Indra merasa aneh. Tapi kemudiaan dia mengerti kalau Rina kini sedang mencari sandaran atas kesedihannya, atas kekesalan yang masih terbalut dalam dirinya. Rasa kesal pada sosok yang sangat ia sayangi. Mereka berdua kemudian menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam di ufuk timur. Cahanya kuning bercampur orange bertebaran di atas permukaan laut yang sedikt berombak. Mengucapakan tanda selamat jalan bagi dua insan yang sedang memandangya.

Malam kini telah menyelimuti bumi. Sinar-sinar kecil mulai tampak di langit. Rina dan Indra memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampai di rumah ternyata Lee telah menunggu di depan pintu masuk. Kepulangan Rina dan Indra membuat Lee terkejut. Lee bangkit berdiri kemudian menemui Rina.
“Bagus! Jadi kamu selama ini enak-enakkan berduaanya ya? Kamu tau nggak udah berapa lama aku nungguin kamu di sini, berharap kamu muncul, menyapaku, bertanya padakau, dan mengajakku masuk ke rumah. Tapi tiba-tiba kau datang dengan pria lain. Kau anggap aku ini apa Rina? Ku coba tuk biarkan kamu sendiri. Berharap kamu bisa tenang dan kita menyatu lagi. Tapi apa?”
“Lee aku..” belum sempat Rina melanjutkan, Lee langsung memotongnya.
“Udah, nggak perlu dijelasin semuanya sudah jelas Rin. Kedatangan aku ke sini sebenarnya untuk meminta maaf tapi nggak jadi!” Lee melemparkan bunga mawar yang ada di tangannya di hadapan Rina. Bunga yang akan ia berikan kepada Rina sebagai ucapan maaf. Daun-daunnya berserakan di jalan. Indra tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bediri mematung, mendengar Lee mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar kepada Rina dengan nada meninggi.
“Lee, aku kan belum ngomong kalau dia itu temanku” Rina menggigit bibirnya. Menahan kepedihan yang mendalam. Rina menangis sambil memanggil Lee, tapi itu tak membuat langkah kaki Lee berhenti. Ia tak sedikitpun menoleh ke belakang.
“Rin, yang sabar ya? Ini Cuma salah paham.” Indra coba menenangkannya.
“Aku masuk duluan ya Indra.” pamit Rina lalu berlari ke dalam rumahnya.
“Ya Tuhan. Apa ini semua adalah balasan yang harus aku terima atas apa yang telah aku perbuat selama ini? Aku mohon kuatkanlah aku dalam menghadapi gejolak hidup ini.”
Tiba-tiba handphone milik Rina berbunyi. My love muncul di layar. Ternyata panggilan dari Lee. Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Ia berusaha untuk suara tangisannya tak terdengar..
“Aku rasa hubungan kita sampai di sini saja.” kata Lee dari seberang telepon
Tuutt.. percakapan terputuskan. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Kata-kata itu seakan mampu menusuk hatinya sampai bagian yang terdalam. Kata-kata itu berubah menjadi pedang yang sangat tajam. Menusuk hatinya sampai menyisakan luka. Memang tak ada darah yang mengalir keluar dari tubuhnya, namun begitu sakit yang Rina rasakan. Sampai membuatnya terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Ia masih tak percaya, hubungan yang Ia bina selama ini dengan Lee harus berakhir seperti ini. Ia berharap indah di akhir cerita tapi harapannya menjadi sirna. Semuanya hilang saat mendengar pernyataan tadi. Yang ia rasakan hanyalah sakit yang teramat dalam, sedalam panah cinta yang berhasil Lee tancapkan tepat di hatinya. Sedalam laut di samudra atlantik. Ia lalu menagis.

Kini ia kembali lagi ke dunianya. Di mana ia harus menjalani hari-hari yang sunyi. Seperti sebelum ia mengenal Lee. Sulit sekali rasanya harus berpisah dari orang yang sangat ia cintai. Orang yang membuat hidupnya sedikit berarti. Tapi ia coba tuk jalani semuanya itu. Tak jarang Indra mampir ke rumah Rina, mencoba untuk menenagkan dan menguatkan sahabatnya itu. Indra tahu, di saat seperti ini yang Rina butuhkan adalah dukungan moril. Rina harus bisa melewati ini semua. Indra tak mau Rina terus bersedih sepanjang waktu.
“Semua pasti akan baik-baik saja!”
“Iya” jawab Rina dengan lirih.

Beberapa hari telah berlalu tapi Rina belum mampu untuk melupakan Lee. Wajahnya masih begitu melekat di benaknya. Seperti seekor kupu-kupu cantik yang senantiasa mencari serbuk sari. Bayangannya pun masih saja menghantui tidurnya. Seakan tak mau pergi darinya. Perasaanya juga tak berubah sedikitpun. Ia masih tetap mencintai Lee, meskipun hatinya telah terluka dengan perlakuannya. Ia berpikir awalnya cinta begitu indah pada jumpa pertama. Tapi yang dirasakan malah sebaliknya. Cinta itu seakan berubah menjadi sebuah silet yang begitu tajam, mampu melukai hatinya. Meskipun begitu, Lee tetap menjadi yang terindah di matanya. Seindah pelangi yang tampak setelah hujan berlalu. Seindah bunga yang sementara bermekaran di taman yang aroma wanginya menyebar di setiap sudut halaman.

“Kau terlihat senang di sana.
Apa kau tak mengkhawatirkanku yang ada di sini?
Semoga saja!
Kau tau apa yang ku rasakan sekarang?
Yang jelas ku masih menanti dirimu
Tapi apa yang ku dapat?
Nothing!
Seandainya ku punya sayap,
Pasti sudah ku gunakan tuk menghampirimu.
Akan ku telusuri setiap jalan tuk menemukan dirimu.
Seandainya aku jadi langit,
Pasti aku tahu di mana engkau berada.
Tapi,
Beginilah aku.
Diciptakan dengan apa adanya sekarang.
Ku harap kamu cepat kembali.
Kembali dalam jalan cinta yang telah kita rajut.
Kembali dalam kebahagiaan yang telah kita ukir bersama.
Di manakah dirimu yang dulu?
Ku di sini menunggu dalam kesepiaan.
Tak jarang air mata ini mengucur keluar membasahi pipi.
Ku hanya bisa berharap.
Dan terus berharap.
Berharap dalam kesunyian malam.
Memanggil namamu dalam ramainya lika liku kekhidupan.
Kehidupan yang mungkin telah mengubahmu.
Mengubah alam pikirmu.
Ku masih di sini.
Berharap kau datang menghampiri”

Hari itu begitu panas. Rina berjalan menuju sebuah kios kecil yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Membeli sebotol air untuk menghilangkan dahaganya. Ternyata Lee sedari tadi telah menunggu Rina. Ia mengikutinya dari belakang. Langkah kakinya diatur sedemikian rupa sehingga suaranya tak sampai terdengar di telinga Rina. Kini ia tepat berada di belakang Rina. Bersembunyi di balik tubuh mungilnya.
“Boleh ngomong sebentar?” tanya Lee.
Rina berdiri mematung. Air yang diminumnya seakan tak mau mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Seakan oksigen berusaha masuk dari selah selah hidung yang berusaha ia tutup. Rina menganggukan kepalanya, pertanda setuju. Ia begitu bingung dengan kedatangan Lee yang tiba-tiba.
“Di rumah mu aja, boleh ya?” pinta Lee.
“Baiklah.” jawab Rina singkat.

Mereka berdua langsung menuju tempat yang telah mereka setujui. Mereka duduk di halaman belakang. Lee menundukkan kepala. Ia berusaha mengatur pernapasannya.
“Apa yang mau kamu ngomongin?” tanya Rna, sembari tersenyum pada Lee. Senyum yang menyembunyikan luka yang telah digoreskan di hati. Senyum yang begitu memilukan.
Lee masih tampak diam. Seakan ia menjadi bisu untuk saat itu. Sekian lama berdiam diri, akhirnya mulutnya mulai terbuka perlahan.
“Ak… Aku…” kata-katanya terputus.
“Ngomong aja Lee. Nggak ada yang perlu ditakuti. Aku bukan hantu kok?’ canda Rina. Ia berusaha terlihat senang, tapi tidak.
“Aku nyesel banget atas perlakuanku ke kamu. Itu semua karena aku emosi. Emosiku jadi tak terkontrol, sehingga aku harus mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untukmu. Tak pantas untuk kau dengar. Aku juga sudah tau, ternyata Indra itu adalah temanmu. Aku sungguh menyesal! Tolong maafin aku ya Rin?” ucap Lee sambil menundukan kepalanya. Ia tak mampu menatap mata Rina. Mata yang tersirat kesedihan. Mata yang terpaksa harus mengerluarkan butiran beningnya atas perlakuaanya sendiri.
“Kamu kok bisa tau? Kan aku belum cerita sama kamu?’ tanya Rina.
“Dia sendiri yang datang ke aku. Terus jelasin semuanya” jawab Lee
“Tolong maafin aku ya?’’ lanjutnya
“Uda aku maafin kok!” jawab Rina sambil tersenyum padanya. Ini senyum yang tulus dari hatinya.
“Aku mau kita balikan seperti dulu. Ya itu karena ku tak mampu jalani hari-hari tanpa dirimu di sisiku. Sepi sekali semenjak hubungan kita berakhir. Semua terlihat menghilang di saat aku butuh hiburan. Ku rindu akan hadir mu. Ku coba sampaikan mimpi pada bintang yang jatuh di kala malam. Memohon pada mentari agar menyampaikan rasa rinduku lewat cahayanya di kala ku bangun di pagi hari. Ku bertanya pada langit di mana engkau berada. Ku titip salam padamu lewat angin yang berhembus. Berharap kita bisa jadiaan lagi. Ku rindu akan semua hal manis yang telah kita lalui bersama. Ku rindu akan tawamu yang selalu terpampang jelas di wajahmu. Ku rindu semua hal tentang dirimu. Saat ku ingin berpaling dan mencari bahwa siapa yang pantas untukku, di saat itu juga ku tahu bahwa kaulah jawaban yang tepat.”
Pengungkapan Lee membuat rina jadi makin mencintainya. Ia senang sekali mendengar penjelasan Lee. Ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hari-harinya. Dan kini terjawab sudah. Meski Rina harus melewati bagian yang tersulit. Ya begitulah hidup. Tak mudah di tebak, tak mudah diterka. Penuh dengan misteri dan tantangan.

Rina tak menjawab. Ia hanya mengangkat jari kelingkingnya saja. Lee mengerti dengan yang dilakukan Rina. Ia juga mengakat jari kelingkingnya. Mereka berdua kemudian mengaitkannya, pertanda bahwa mereka telah berdamai dan kembali dalam cinta yang sempat putus untuk sementara.
“Why do we break up Lee? Aku tahu waktu itu kamu sedang marah dan kamu meninggalkanku. Tapi ku yakin itu hanya sementara saja. Ku yakin juga bahwa kamu pasti akan datang, datang dengan kata maaf lalu tersenyum padaku. Seperti sekarang ini.” bahtin Rina.
Mereka berdua lalu berpelukan. Melepaskan rindu yang terpendam rindu yang membelenggu kedua insan. Bak, menanti hujan di padang gurun yagng begitu menyengat.
“Cieee cieee.. Ada yang baru balikan ni eee?” ucap Indra yang telah berada di samping mereka berdua. Serentak keduanya lalu melepaskan pelukan tersebut.
“Eh, sorry aku udah ganggu. Di lanjutin aja. Pasti belum puas kan melepas rindu karena sekian lama tak jumpa?” sindir Indra
Rina hanya tersenyum.
“Itu, ada yang tersenyum. Senyum sendiri kayak orang gila. Berarti betul dong?” tambahnya lagi.
Suasana menjadi ramai, berkat kehadiran indra dengan leluconya itu. Mereka semua tertawa bersama. Kini hubungannya bisa dimulai kembali. Hubungan yang sempat renggang karena hanya salah paham antara Rina dan Lee. Namun semuanya itu dapat dihandle. Seperti kata pepatah kuno “Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya.”

Pantang menyerah

5 Ekor Monyet


Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?

Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.

Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan? seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. ?Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?? protes keduanya?.

Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh? jelas monyet C.

Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. ?Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas ? Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?? tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik ?

Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya?..

***

Renungan:

Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku anda saat ini ?

Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka. Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri. Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.

Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini?,Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya? atau mungkin kalimat ?Kamu mau gagal kayak si X ? lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh?. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?

Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. ?Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal? adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.

Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.

Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata ?Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho?.

Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.

Berapa orang yang akan menjawab ?Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?? Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.

Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?

Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.

"Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda."


Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah

Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
 Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1Cinta Bernoda Darah

Seri : Bu Kek Siansu #03

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal yang bergumpal-gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tertutup awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san merupakan anak tangga menuju ke sorga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san.

Dongeng atau kepercayaan tentang hal ke dua ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang menguasai seluruh permukaan bumi dan diingat pula akan keadaan pun­cak itu sendiri. Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas, jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas, dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan.

Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan memi
... baca selengkapnya di Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Sabtu, 26 Maret 2016

Batu Untuk Dilemparkan

Batu Untuk Dilemparkan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Banyak orang berpikir bahwa sebuah film dengan aktor utamanya adalah seorang ?idiot? pasti akan disambut secara dingin oleh pemirsa. Forrest Gump justru sebaliknya.

Tom Hanks muncul melakonkan seorang pemuda yang bernama Forrest Gump, mengisahkan tiga puluh tahun kehidupannya, dan ia senantiasa muncul sebagai ?pemenang? dalam setiap kejadian besar yang berhubungan dengan sejarah Amerika jamannya. Ia muncul sebagai pemain American football, tampil sebagai pahlawan dalam perang Vietnam, ia menjuarai turnament ping pong internasional. Ia adalah pahlawan yang bertemu dan disambut hangat oleh dua presiden Amerika John F. Kennedy dan Richard Nixon. Ia juga tampil perkasa dalam Watergate Scandal.

Di samping Forrest, terdapat pula bintang utama lain dalam film ini yakni Jenny yang merupakan satu-satunya teman Forrest di samping ibunya. Dalam perkembangan selanjutnya, Jenny menjadi orang yang dicintai Forrest. Dalam salah satu adegan, setelah ayahnya meninggal Jenny kembali ke rumah lama yang ditinggalkannya. Rumah tua ini sungguh tak bermodel lagi. Segalanya nampak punah dan tinggal kenangan yang samar-samar.

Namun secara perlahan dalam ingatannya ia kembali dihantar kepada pengalaman pedih yang dialaminya ketika ia masih kecil, ketika ia di
... baca selengkapnya di Batu Untuk Dilemparkan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Jumat, 25 Maret 2016

Gak mau Antri? Apa Kata Dunia?

Gak mau Antri? Apa Kata Dunia? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Pratama Puji

Antri? mendengar kata antri tentunya tak asing lagi di telinga kita, karena antri memang sudah biasa kita hadapi sehari-hari. Antri beli bensin, antri macet, antri naik lift, antri ketika di toilet, dan sebagainya. Rasanya aktivitas kita sehari-hari tak bisa dipisahkan dari antri. Nah yang menjadi pertanyaan apakah kita termasuk orang-orang yang mau antri?

Pada dasarnya antri bisa dikatakan ”sabar menunggu giliran”, memang hal ini bisa menjadi suatu hal yang menjemukan ataupun menyenangkan. Menjemukan karena kita memang tidak terbiasa antri/tidak mau antri, atau kita memang sibuk/sok sibuk. Namun kondisi ini bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi orang-orang yang memang bisa ”menikmatinya”. Di situlah tantangannya. Seperti orang memancing, yang sabar menunggu ikannya dan strikeeee

Dan dari situasi antri inilah, bisa dijadikan ajang mencari rezeki bagi orang-orang yang mampu memanfaatkan celahnya. Contohnya: calo STNK di samsat, pungli oleh oknum tertentu untuk mempercepat pelayanan publik, dan masih banyak lagi.

Melihat orang tidak mau antri, saya pun menjadi geregetan. Hal itu saya jumpai ketika mengurus surat pengantar di perusahaan pembiayaan untuk keperlua
... baca selengkapnya di Gak mau Antri? Apa Kata Dunia? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit

Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

TIGA MAHLUK BERBENTUK KELELAWAR RAKSASA MENGUIK KERAS. MEREKA MENUKIK KE BAWAH DAN LENYAP DI BALIK KABUT YANG MULAI MUNCUL MENUTUPI KAWASAN PUNCAK GUNUNG SEMERU, SESAAT KEMUDIAN TERDENGAR SUARA PENGUASA ATAP LANGIT."SINUHUN MERAH PENGHISAP ARWAH, TERAKHIR KALI KAU DATANG KAU MEMBAWA SESAJEN ATAP LANGIT BERUPA DELAPAN JANTUNG BAYI LELAKI. KATAKAN PADAKU, KALI INI SESAJEN ATAP LANGIT APA YANG KAU BAWA UNTUK DELAPAN ANAK KUCING JANTAN MERAH SAKTI PELIHARAAN DIRGA PURANA!" "PENGUASA ATAP LANGIT, SESAJEN YANG KUBAWA KALI INI ADALAH SUMSUM DELAPAN BAYI LELAKI YANG TELAH DICAIRKAN MENJADI SUSU."



SATUDI RUANG Segi Tiga Mayat yang terletak di dalam tanah di bawah Candi Plaosan Lor, Empu Semirang Biru mendadak saja dilanda kekawatiran. Di atas atap suara ngeongan delapan anak kucing merah semakin keras. Ruangan segi tiga bergetar keras. Delapan Sukma Merah bukan anak kucing biasa!

Orang tua pembuat Keris Kanjeng Sepuh Pelangi ini menatap ke atas atap.

"Bagaimana kalau dua Sinuhun memiliki ilmu penangkal baru, lalu
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Minggu, 20 Maret 2016

Sudah Lupa Tuh …

Sudah Lupa Tuh … Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Agus Prasetyo

Di suatu sudut ruang tunggu dokter yang pengap, saya mendengar percakapan seorang ibu dengan anaknya yang masih playgroup. Ibu : “Apa bahasa Inggrisnya pepaya ?” Anak : “Papaya” Ibu : “Apa bahasa Inggrisnya belimbing ?” Anak : “Belimbing” Ibu : “Bukan nak. Bahasa Inggrisnya belimbing adalah starfruit”

Ibu itupun menanyakan beberapa hal lain lalu kembali bertanya apa bahasa Inggrisnya belimbing. Anak itu kembali salah menjawab. Ibu itu mulai kehilangan kesabaran, lalu berkata dengan suara keras: ”Ayo, ucapkan starfruit 10 kali”. Anak itu menurut tapi lagi-lagi salah ketika ditanya ibunya beberapa saat kemudian.

Kini ayahnya mulai kehilangan kesabaran juga dan ikut membentak anaknya serta mengancam akan membuang mainan anak bila si anak terus menerus tidak bisa menjawab.

Suatu kondisi yang tidak menyenangkan bagi anak tersebut. Namun mungkin kita juga melakukan hal yang sama.

Anak ibaratnya kertas putih. Orang tua dan lingkunganlah yang mengisinya. Kegagalan anak untuk belajar berarti kegagalan orang tua untuk memahami proses pembelajaran.

Dalam mengajar anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : 1. Bakat Anak Berbeda-beda Salah satu teori yang popular adalah kecerdasan majemuk/multiple intelligence oleh Howard Gardner. Secara sederhana dapat dikatakan
... baca selengkapnya di Sudah Lupa Tuh … Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Jumat, 18 Maret 2016

Why Do We Break Up?

Why Do We Break Up? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang menggelegar di telinga. Sepertinya akan turun hujan. Rina masih saja duduk terdiam di ruang keluarga. Kedua tangannya menggapai lutut. Ia terlihat begitu murung. Tak berdaya sama sekali.

“Kamu di mana? Aku kangen banget sama kamu! Kamu hilang bagai ditelan bumi. Nggak ada kabar sama sekali!”
Kejadian itu pun teringat kembali di benak Rina. Rina memanggil Lee, saaat ia sedang lari sore bersama Dina, temannya. Tapi panggilannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Lee. Rina jadi sedih sekali. Dia dicuekin begitu saja. Sebagai perempuan, ia merasa tidak diperhatikan oleh pujaan hatinya sendiri. Tapi Rina tak mengetahui bahwa di saat itu Lee sedang memakai headset di telinganya. Mendengar lagu dengan volume tertinggi. Lee mencoba tuk menjelaskan, tapi Rina bersikeras untuk mendengarkan. Dengan berat hati Lee meninggalkan Rina.

Lee berusaha untuk tidak menghubungi Rina untuk sementara waktu. Mungkin dengan begitu, Rina bisa menenangkan pikirannya yang penuh dengan emosi. Dan sampai sekarang Rina masih belum bisa mengontrol emosinya.
Rina beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar.
“Makan dulu nak!” teriak ibunya dari sebelah kamar.
“Aku udah kenyang ma.” Balas Rina lalu menutup rapat
... baca selengkapnya di Why Do We Break Up? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 15 Maret 2016

Perang dengan Kemiskinan Mental

Perang dengan Kemiskinan Mental Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Beberapa bulan terakhir ini, kita semua tak lepas dari wacana kebangkitan bangsa Indonesia. Para politisi, pengusaha, cendekiawan, agamawan, akademisi, mahasiswa, dan hampir semua kalangan, dengan bersemangat membicarakan bagaimana membangkitkan kembali bangsa yang besar ini. Siapa yang harus memulai bekerja keras membangkitkan Indonesia kembali? Para pemimpin? Atau “mereka” di luar sana? Atau justru harus dimulai dari diri kita sendiri? Pada 2400 tahun yang lalu, berlaku prinsip kill or to be killed, membunuh atau dibunuh. Supaya survive maka harus berperang membunuh musuh. Filosofi survival zaman kehidupan Sun Tzu ini, sesungguhnya masih ada relevansinya! Tentu saja, relevansinya bukan pada membunuh orang lain. Dalam konteks bangsa ini, peperangan sesungguhnya tidak terjadi “di luar sana”, melainkan perang terjadi “di dalam diri kita”. Artinya, kita harus berperang melawan kemiskinan mental yang sekian lama telah membelenggu diri kita.

Apa itu kemiskinan mental? Kemiskinan mental adalah sebuah kondisi mental kejiwa
... baca selengkapnya di Perang dengan Kemiskinan Mental Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Kenapa Harus Aku

Kenapa Harus Aku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kehidupan itu sungguh suatu misteri. Banyak kejadian yang tak terduga yang terkadang menimpa kita. Itu lah yang aku rasakan, kejadian demi kejadian yang datang membawa kesedihan.

Aku putra sulung di keluargaku. Sebagai seorang anak aku ingin selalu bersama kedua orang tuaku, mereka yang menjaga dan mendidikku sehingga aku menjadi anak yang berbudi baik. Bahkan, dari tahun ke tahun aku selalu menjadi juara kelas, menjadi kebanggaan guru n di puji kesantunanku oleh orang-orang di sekelilingku. Itu semua berkat kedua orang tuaku…

Tapi keadaan berubah ketika aku duduk di kelas 2 smp. prahara rumah tangga yang membuat kedua orang tuaku harus bercerai. Aku tidak lagi bisa merasakan hangatnya keluarga. Rumah yang dulu bagiku adalah sebuah syurga, kini berubah jadi tempat gelap yang membosankan. Tak ada lagi kedamaian yang aku rasa. Tak ada lagi ayah yang dulu selalu mengajariku banyak hal tentang hidup, mengajariku menjadi lelaki yang tangguh. Tak ada lagi ibuku yang dulu selalu mengingatkanku untuk mengerjakan PR, menyiapkan buku sekolah. Tak bisa lagi aku lihat ibuku memasak makanan untukku…
Aku kehilangan semua itu yang harusnya masih aku miliki. Dan aku pun harus melanjutkan hidup tanpa orangtuaku. aku memilih tuk tidak ikut ayah atau ibuku, karena saat itu aku kecewa pada keput
... baca selengkapnya di Kenapa Harus Aku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Jumat, 04 Maret 2016

Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi Hanya Dalam Waktu 1 Hari?

Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi Hanya Dalam Waktu 1 Hari? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pembaca, beberapa waktu lalu saat berada di Singapore saya mendapat panggilan dari seorang dokter di salah satu kota besar di Jawa Barat. Pak Dokter ini, yang juga seorang kepala rumah sakit, bertanya apakah saya bisa datang ke kotanya dan mengajar hipnoterapi untuk para dokter di salah satu rumah sakit di sana? Sudah tentu saya bisa dan bersedia.

Setelah berdiskusi sejenak mengenai tujuan pelatihan dan hasil yang ingin dicapai saya akhirnya memutuskan untuk mundur, tidak bisa. Mengapa kok tidak bisa?

Ceritanya begini. Para dokter itu menyadari bahwa hipnoterapi adalah salah satu teknik terapi yang bisa sangat membantu meningkatkan pelayanan mereka. Namun yang menjadi kendala adalah mereka meminta saya untuk mengajarkan hipnoterapi hanya dalam waktu 2 (dua) hari saja. Alasan Pak Dokter jadwal mereka cukup padat sehingga tidak bisa lama-lama nggak praktik.

Saya mengajukan usulan agar pelatihan dilakukan beberapa kali dengan total 100 jam seperti yang saya lakukan selama ini melalui Quantum Hypnosis Indonesia. Pak Dokter mengatakan tidak bisa 100 jam. Terlalu lama dan juga biayanya akan sangat tinggi. Beliau tetap meminta saya mengajarkan hipnoterapi hanya dalam 2 hari saja. Beliau beralasan bahwa mereka telah mendapa
... baca selengkapnya di Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi Hanya Dalam Waktu 1 Hari? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 01 Maret 2016

Menjadi Pribadi Champion

Menjadi Pribadi Champion Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Surya Nurrachman

Kisah ini dimulai dari perjalanan hidup seorang Champion yang bernama “Alung” yang mempunyai sejak dia beumur 15 tahun, perjalanan hidupnya tidak mudah. Berawal dari ketidak mampuannya berbahasa Inggris sehingga dalam kepepet dia nekat menciptakan sebuah tekad bulat dengan membalikkan keadaan tidak dari segi angka 4 di rapot menjadi angka 8.

Perjalanan hidupnya waktu SMA yang sukanya bola dan baru sadar setelah lulus SMA dan terpaksa kuliah sekretaris karena keterbatasan biaya, kerjanya nggak nyambung di bagian AutoCAD yang pada akhirnya turut berkontribusi atas hadirnya 30 gedung bertingkat termasuk UNTAR dan RS. Husada.

Kemudian mengumpulkan uang selama 2 tahun untuk kuliah, dimana orang lain seangkatannya sudah diwisuda, dia malah baru masuk kuliah. Tetap bertahan untuk kuliah walaupun menempuh jarak yang jauh yaitu Jakarta – Cikarang naik bis, lanjut kuliah ke S2, selesai kuliah S2, rumah terbakar, meniti karir dari menjadi yang terbaik sampai mencapai posisi puncak, namun akibat krisis moneter dia pun ikut di Rasionalisasi.

Sejak itu dia banting stir ke bidang webmaster dan ingin pindah ke Amerika namun tidak
... baca selengkapnya di Menjadi Pribadi Champion Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu